There was an error in this gadget

Friday, 15 February 2013

Sejarah Minahasa


Sejarah Minahasa

Minahasa berasal dari kata MINAESA yang berarti PERSATUAN, pada zaman dahulu Minahasa dikenal dengan nama MALESUNG. Asal-usul orang Minahasa, berdasarkan penyelidikan dari para ahli suku bangsa yg berasal dari Eropah, bahwa orang Minahasa berasal dari bagian Utara dan mempunyai pertalian serta banyak kesamaan dengan bangsa Jepang dan Philipina, baik dalam bentuk physic maupun keadaan rambut, tulang, paras wajah, bentuk mata dan lain-lain. Dari segala bahasa maka bahasa daerah yang digunakan orang Minahasa termasuk dalam rumpun bahasa Tagalog ( Philipina ).
Menurut penyelidikan ahli ilmu purbakala ( Archaeologist ) Dr.J.P.G.RIEDEL WILKAN dan GRAAFLAND bahwa pemukiman nenek moyang orang Minahasa dahulunya disekitar pegunungan Wulur Mahatus kemudian berkembang berpindah ke NIEUTAKAN sekitar Tompasobaru saat ini.
Leluhur orang Minahasa adalah berasal dari hubungan perkawinan antara TOAR dengan Putri RUMIMOTO ( anak Kaisar Jepang TENO HEIKA }. Kata Lumimuut berasal dari ceritera rakyat Minahasa. Menurut legenda ketika awal mula perkenalan Toar dengan Putri Rumimoto, bagi Toar terasa janggal menyebut kata “Rumimoto”, ketika Toar mencoba menirukan apa yg diucapkan Putri Rumimoto, namun selalu saja ucapan Toar yang terdengar adalah kata “Lumimuut” hingga singkatnya mereka berdua membentuk keluarga “ Toar - Lumimuut “.
Pada zaman itu keturunan Toar Lumimuut dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan golongan yaitu :
  1. MAKARUA SIOW : Para Pengatur Ibadah dan Adat
  2. MAKATELU PITU : Golongan yang Mengatur Pemerintahan
  3. PASIOWAN TELU : Golongan Rakyat
Istilah MAKARUA SIOW ( 2 x 9 ) ; MAKATELU PITU ( 3 x 7 ) dan PASIOWAN TELU ( 9 x 9 x 9 ) yg diambil dari bunyi BURUNG MANGUNI pada saat dilakukan pengesahan golongan - golongan tersebut. Penggolongan ini tidak dapat bertahan lama, karena terjadi kawin mawin diantara ketiga golongan tersebut.
Berdasarkan penyelidikan Dr.JPG.Riedel Wilkan sekitar tahun 670 di Minahasa telah terjadi suatu Musyawarah para pemimpin di Watu Pinawetengan, terdapat bekasnya tertulis pada batu besar dan dapat dilihat hingga sampai saat ini. Musyawarah para leluhur itu disamping untuk menegakkan adat istiadat, juga pengaturan tentang pembagian wilayah di Malesung ( sekarang menjadi Minahasa ) sebagai berikut :
  1. ANAK SUKU TONTEWOH ( Tonsea ) menuju ke Timur Laut ;
  2. ANAK SUKU TOMBULU Menuju Utara ;
  3. ANAK SUKU TOULOUR Ke Timur menuju Atep ;
  4. ANAK SUKU TOMPEKAWA Ke Barat Laut, menempati sebelah Timur Tombasian Besar.
Pada saat itu belum semua Daratan Minahasa ditempati, pemukiman keturunan leluhur barulah sampai digarisan sungai Ranoyapo, Gunung Soputan, Gunung Kawatak, Sungai Rumbia. Nanti setelah permulaan Abad XV semakin berkembang pesatnya keturunan TOAR LUMIMUUT (orang Minahasa) pendek kata terjadinya perang dengan Bolaang Mongondow, maka penyebaran penduduk makin meluas keseluruh daerah Minahasa. Sejalan dengan itu anak sukupun berkembang menjadi anak suku TONSEA, TOMBULU, TOULOUR, TOUNTEMBOAN, TONSAWANG, PONOSAKAN, dan Suku BANTIK .
Dengan berpatokan pada fakta tersebut diatas, maka didalam menentukan hari jadi Minahasa, rakyat Minahasa yg tersebar dari Likupang hingga Modoinding, melalui wakil-wakilnya di DPRD Kab.Minahasa, telah menetapkan tanggal 5 November 1428 sebagai hari jadi MINAHASA.
Di Minahasa sejak dahulu tidak pernah mengenal adanya pemerintahan yang diperintah oleh seorang Raja, namun yang ada yaitu :
WALIAN : Pemimpin Agama/ Adat serta disebut dukun ;
TONAAS : Orang keras yg ahli memimpin, ahli Strategi, ber -
wawasan luas khususnya ilmu Pertanian, Kewanuaan,
mereka yg dipilih menjadi Kepala Walak ;
TETERUSAN : Panglima Perang ;
POTUASAN : Penasehat.
Dengan bertambahnya penduduk maka yg menjadi Kepala WANUA disebut Tu’a Um Banua selanjutnya dikenal UKUNG TUA dan akhirnya istilah tersebut menjadi HUKUMTUA, dimana pengertian semua istilah tersebut sama artinya yaitu PELINDUNG. Dibawah Hukumtua disebut TUA Lukar ( Kepala Lingkungan ) dan MEWETENG ( Pembagi Kerja ).
Sebutan TONAAS didalam kalangan orang Minahasa yakni julukan bagi seorang pendekar pemberani, jujur dan baik budi, suka menolong orang yang berada dalam kesusahan. Pendekar yang tidak pernah menyerah menegakkan kebenaran, sehingga figur Tonaas adalah yang mempunyai kekuatan lebih disertai watak/karakter yg keras ( pengertian zaman dahulu ). Sedangkan pada era saat ini arti Tonaas secara umum luas artinya sebagai seorang yang mampu bertanggung jawab, berjiwa Patriotisme, dan juga sebagai figure pemimpin yg dapat menjunjung tinggi serta melestarikan nilai-nilai adat dan budaya asli Minahasa didalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Nama MANGUNI adalah sejenis burung malam, yang bagi orang Minahasa lebih dikenal dengan nama burung doyot/Loyot ( burung hantu ) . Pada zaman dahulu disebut sebagai “ Koko ni Opo ” sebab bunyi burung ini digunakan oleh para leluhur sebagai tanda pengesahan/pelantikan suatu golongan, dan juga sebagai makhluk pembawah berita, burung penghubung ( komunikator ) melalui tanda-tanda bunyi burung Manguni, terutama dalam menghadapi serangan-serangan musuh.
Sebagai contoh dalam ceritera Tongkeina Linekepan, dimana menceriterakan rencana penyerangan Raja Mindanau yg dikenal sebagai Kowalan Watulinei ( julukan leluhur Pangerapan ) yg artinya pendekar berkulit batu asahan.Atas petunjuk melalui tanda bunyi burung Manguni ( ko’ko ni Opo) maka para leluhur sudah dapat mengetahui sebelumnya apa yg nantinya akan terjadi, sehingga leluhur-leluhur sudah siap siaga untuk menghadapi serangan dari Raja Mindanau. Ringkasnya terjadi perang tanding diujung utara dataran Minahasa ( wilayah Likupang saat ini ). Oleh karena adanya persiapan yang matang, serta kekuatan dan kesaktian para Leluhur, sehingga Raja sakti -
Mindanau berjulukan Pendekar berkulit batu asahan mampu dihancurkan oleh para Tonaas. Ini semua atas jasa dari burung Manguni ( burung Loyot/burung
hantu ) sehingga dataran Minahasa ujung utara dan pulau-pulau sekitarnya dapat direbut kembali dari kekuasaan Raja Mindanau.
Berkaitan dengan burung Loyot/Doyot, fakta kisah penulis saat mengikuti prosesi pengesahan adat pengurus Korwil, pada tanggal 11 Agustus 2007 di Watu Pinawetengan salah satu situs sejarah di Tompaso, tempat yg pernah dilakukan Musyawarah oleh 9 ( sembilan ) Tonaas pada Tahun 670. Pada saat malam pelantikan adat berlangsung dengan hikmat disertai rintihan hujan, terdengar beberapa kali suara teriakan burung doyot/burung Manguni. Bunyi Koko Ni Opo ini pertanda bahwa pengesahan pengurus telah mendapat restu dari Opo Empung (Tuhan Pencipta). Adapun hal-hal lainnya yg terjadi diluar perencanaan, sebab terdapat beberapa orang pengurus lainnya yg seharusnya ikut dalam pelantikan ini. Secara kebetulan terpisah dengan rombongan kami oleh sebab terhalang sesuatu hal lain. Sehingga beberapa orang pengurus Korwil tidak dapat turut serta dilantik secara adat Minahasa yang sangat langkah diadakan ditempat bersejarah di Watu Pinawetengan.
BINTANG 9 (Sembilan) identik dengan Sembilan LELUHUR/TONAAS orang Minahasa yang pernah melakukan musyawarah di Watu Pinawetengan di Kecamatan Tompaso pada tahun 670, yakni Leluhur PONTORORING, PANGERAPAN, TUMALUN, SUMANTI, TUMIDENG adalah Pendekar Bumi, MAKAWALANG, LINGKAN WENE adalah Putri padi (Penguasa padi) dan Leluhur SIOWKURUR. Hingga saat ini angka SEMBILAN dipakai sebagai angka pelindung bagi warga keturunan Toar Lumimuut di Sulawesi Utara umumnya.
Bunyi teriakan Burung Manguni yang berbunyi 9 ( sembilan kali ) bunyi burung itu menandakan bahwa kemenangan dan keberuntungan akan selalu berpihak kepada para leluhur dalam menghadapi lawan-lawannya dari suku bangsa Mindanao yg selalu mencoba menguasai tanah Malesung. Dengan cara disentakkannya kaki ketanah tiga kali dengan menyebut kata Tuama tiga kali, sambil memegang senjata dengan kedua belah tangannya berserulah para leluhur disertai kukukan memanggil dan memohon pertolongan arwah sang leluhur dan memohon perlindungan kepada Opo Empung yang dimaksud adalah Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana tersebut pada Ceritera rakyat Minahasa secara turun temurun tentang riwayat leluhurnya yakni seorang pendekar gagah perkasa, jujur dan baik hati bernama TUMALUN yg mempunyai istri bernama Tonton dengan dua orang anaknya bernama Mawikit dan Kawulanan.
MAKAWALANG : adalah Leluhur penguasa tanah Malesung
SIOWKURUR : adalah Leluhur penguasa yang menjaga dan mengawasi
segala bukit dan lembah tanah Malesung yg dikenal
dengan Pendekar Siownatokaan, wo siownapasongan.
Opo Wailan / Empung adalah Tuhan pencipta ( bahasa Tombulu)
Opo Kasuruan adalah Tuhan Pencipta ( Bahasa Tompakewa )
ASAL – USUL Leluhur orang Minahasa ( Toar Lumimuut ) yang penulis peroleh dari beberapa sumber, juga berdasarkan pada ceritera rakyat Minahasa secara turun temurun. Bahwa kata TOAR artinya manusia berasal dari api, karena letusan gunung api yg terjadi sangat dahsyat pada zaman itu, sehingga akibat dari letusan tersebut berubah menjadi danau Tondano. Dalam Hikayat Malesung letusan gunung berapi yang sangat hebat tersebut terjadi pada zaman Megalitikum sebelum Masehi.
TO artinya Orang
AR artinya Api/Panas
Didalam sejarah Malesung ( sekarang menjadi Minahasa ), tersebutlah seorang laki-laki tinggi besar dan berbadan kekar bernama Toar bermukim dilembah Neutakan yg sekarang wilayah Tompaso, disini terdapat Watu Pinabetengan .
Pada Abad ketiga Nippon ( Jepang ) diperintah oleh seorang Kaisar bernama TENO HEIKA, mempunyai seorang putri bernama RUMIMOTO parasnya sangat cantik jelita. oleh karena terjadi perebutan kekuasaan sehingga terjadi peperangan dan singkatnya kekalahan dipihak Kaisar Teno Heika. Oleh karena ayahnya turun tahta dan tidak lagi berkuasa, sehingga putri Rumimoto sangat sedih serta selalu mengurung diri didalam kamarnya seorang diri.
Disaat Kaisar baru akan dilantik, dimintakan kepada Rumimoto untuk mengisi acara tarian pada pesta kemenangan sekaligus pengangkatan Kaisar yang baru.
Putri Rumimoto dimintakan langsung oleh Kaisar yang baru untuk turut menari bersama-sama dengan 9 ( sembilan ) orang penari, yang terdiri dari gadis – gadis cantik pilihan di Jepang, namun Purti Rumimoto yang juga salah seorang penari tercantik, menolak perintah Kaisar baru tersebut. Sehingga Rumimoto diberikan sangsi hukuman mati atas penolakan tersebut. Akan tetapi para pembesar serta rakyat di Jepang banyak yang tidak setuju terhadap putusan hukuman mati yang dijatuhkan kepada Rumimoto, maka para Hakim pengadilan merubah hukuman mati Rumimoto diganti dengan hukuman lain yakni akan diasingkan, dengan cara Rumimoto harus dinaikkan diatas sebuah perahu besar seorang diri dengan diberi bekal makanan dan pakaian secukupnya, lalu dilepas ditengah-ditengah laut samudra .
Singkatnya berhari-hari bahkan berminggu - minggu lamanya Rumimoto diatas perahu terombang ambing dilaut lepas tanpa arah dan tujuan yang pasti. Akhirnya perahu yang membawah Rumimoto, terdampar ditanah Malesung yaitu di Mana’ndou yg artinya ditempat yg jauh ( sekarang bernama Manado ). Putri Rumimoto sangat haus dan lapar, dengan tenaga yang masih tersisa Rumimoto berjalan menyusuri hutan disekitar pesisir Tanawangko untuk mencari air tawar dan buah-buahan yg dapat dimakan.
Dalam perjalanan Putri Rumimoto dihutan untuk mencari makan, tanpa disadari putri sudah semakin jauh kepedalaman hutan Minahasa. Putri Rumimoto berhenti istrahat dilereng bukit bekas letusan gunung berapi ( sekarang telah menjadi danau Tondano ) tampak olehnya dikejauhan cahaya berada diatas perbukitan. Oleh karena rasa keinginan tahunya, maka Rumimoto berjalan menuju sumber cahaya terang benderang tersebut, dengan harapan Rumimoto kemungkinan ada orang lain selain dirinya yang berada didalam hutan untuk dapat dimintakan pertolongan .
Dalam perjalanan Rumimoto menuju keatas bukit, tiba-tiba muncul segerombolan babi hutan menuju kearah Putri Rumimoto, sehingga putri lari ketakutan sambil berteriak-teriak minta tolong karena dikejar babi hutan. Teriakan Rumimoto yang bergema didalam hutan, hingga dapat didengar oleh Toar. Mendengar adanya suara teriakan yang sangat asing didengar bergema,
dengan cukup sekali lompatan saja lelaki Karema (Toar) telah sampai pada sumber suara asing yang didengarnya tersebut, ternyata bersumber dari teriakan seorang gadis cantik Putri Rumimoto.
Betapa kaget Putri Rumimoto melihat telah berdiri dihadapannya seorang laki-laki tinggi besar dan berbadan kekar, sehingga mengakibatkan Rumimoto jatuh pingsan. Toar pun terheran-heran menatap seorang yg berlainan jenis dengan dirinya yakni putri cantik jelita terbaring lunglai tak sadarkan diri, beberapa bagian tubuhnya terdapat luka lecet pada kulitnya yang putih akibat diterjang babi hutan.
Dengan sangat berhati-hati Toar mengangkat wanita cantik tersebut dan dengan sekali melangkah Toar membawah Putri Rumimoto pada suatu lubang bukit ( Gua batu Pasongan ) disekitar Tombariri. Pada saat dalam perawatan Toar, Putri Rumimoto sadar dari pingsan hingga kedua anak manusia yang berlainan jenis kelamin tersebut dan berlainan suku bahasa ini saling tatap menatap keheranan satu sama lainnya. Mereka berdua mencoba untuk saling berkomunikasi dengan gerakan tangan serta kalimat yang keluar dari mulut masing-masing agar dapat saling memahami. Putri Rumimoto ingin mengetahui apa maksud dari ucapan yg keluar dari mulut Toar yg berulang-ulang disampaikan oleh Toar kepada Rumimoto. Sehingga dapat dipahami sendiri oleh Rumimoto bahwa lelaki tinggi dan berbadan kekar yg berdiri didepan matanya menanyakan namanya, lalu Rumimoto menjawab dengan gerakan tangan mendekap kedadanya sambil menyebut namanya “saya adalah Rumimoto, selanjutnya Toar menanggapi dengan cara mengeja kalimat yang disebutkan Rumimoto, lelaki Toar hendak menirukan gerakan bibir ucapan yg keluar dari bibir putri Rumimoto. Setiap kali kata-kata yang disebutkan dan dieja berulang-ulang oleh Rumimoto, namun selalu saja yang terdengar hanya kata “ Lumimuut “ yang diucapkan oleh Toar. Tidak seperti apa yg sudah diucapkan sebelumnya oleh Rumimoto. Kalimat Lumimuut ini berulang-ulang diucapkan oleh Toar dengan wajah kegirangan.
Sehingga putri Rumimoto dapat saja memahami bahwa Toar ternyata terasa janggal untuk menyebut kata Rumimoto, sebab setiap kali putri menyebut Rumimoto, tetap saja Toar mengeja menjadi Lumimuut. Lalu putri mengangguk anggukkan kepalanya seakan-akan membenarkan apa yg telah diucapkan Toar tersebut.
Singkatnya Toar hidup bersama-sama sebagai pasangan suami istri hingga beranak pinak, hingga turunannya tersebar disegala penjuru tanah Malesung ( sekarang menjadi Minahasa ) dan tersebutlah nama Toar Lumimuut sebagai ceritera rakyat (legenda) tentang asal usul leluhur orang Minahasa. Hingga kini sesama orang Minahasa dimanapun berada dikenal dengan sebutan orang Manado “ Kawanua “ dengan semboyan untuk menjaga Persatuan (Minaesa) yang populer hingga saat ini adalah “ TORANG SEMUA BERSAUDARA ”.
Arti Sepesifik KAWANUA adalah :
KA artinya Keluarga
WANUA artinya Kampung
Sehingga diartikan Kawanua adalah Keluarga sekampung dan atau Saudara yang berasal dari daerah yang sama yakni Minahasa pada umumnya.
TEMPAT TINGGAL orang Minahasa atau rumah disebut WALE yg artinya rumah yg dibangun diatas tiang kayu yg tinggi dan untuk masuk keluar harus melalui tangga.Dahulu kala leluhur orang Minahasa bertempat tinggal di Gua batu, kini Gua - gua peninggalan nenek moyang orang Minahasa terdapat di Maliku, Bitung, Motoling, dan di Talikuran. Selanjutnya leluhur membangun tempat tinggal rumah dari tiang kayu dengan penutup atap dari lembar daun-daunan yakni daun Woka, Kelapa dan daun Rumbia yg disebut “Wale” Rumah adat Asli orang Minahasa dapat dilihat di Tounelet, Kakas serta di Tumpaan, Paslaten serta di Talikuran.
Dengan pesatnya perkembangan zaman model Rumah adat Minahasa telah dibangun sesuai kebutuhan masyarakat yang dapat dibongkar pasang untuk dipindahkan, dengan bentuk Rumah adat Minahasa moderen akan tetapi tidak meninggalkan corak keaslian dari “Wale” yang dapat dilihat di Woloan.
MAKANAN orang Minahasa sejak dahulu adalah Beras dan pada umumnya masakan orang Minahasa banyak mengandung lemak. Sedangkan minuman Khas – nya disamping air buah Kelapa,terdapat pula air pohon Enau yg disebut SAGUER.
PERKAWINAN, orang Minahasa menganut system MONOGAMI dan mengikuti garis Keturunan Bapak ( Patrinial ). Sedangkan pergaulan Muda Mudinya boleh dikatakan agak bebas didalam menentukan pasangan hidupnya.
TAHAPAN MENUJU PERKAWINAN SEBAGAI BERIKUT :
  1. Lamaran kepada orangtua si Gadis melalui seseorang yg disebut WADUK, apabila diterima langsung musyawarah mengenai jumlah Emas kawin dan Tanggal Pertunangan ;
  2. Pertunangan resmi disaksikan oleh keluarga, Pemuka Adat, Pemuka Agama dihadapan Pemerintah, dan pada saat itu Emas Kawin untuk sigadis dibawah selanjutnya tanggal perkawinan ditetapkan ;
  3. Perkawinan dilaksanakan.

No comments:

Post a Comment